Keterbukaan Informasi Layanan Publik

Inovasi di bidang informasi.

Perubahan mendasar dalam tata kelola informasi dan dokumentasi badan publik.

Perisapan terkait dengan KIP. Di antaranya, sosialisasi, pembentukan kelembagaan, pengelola informasi, penguatan sumber daya manusia, piranti teknologi informasi, hingga payung hukum di tingkat daerah.

Tujuannya untuk membuat badan atau lembaga publik lebih transparan dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugas-tugasnya.

Terobosan ini menghasilkan penghargaan Otonomi Award Bidang Akuntabilitas dalam sistem penanganan komplain integratif.

Yakni, percepatan penanganan komplain dari masyarakat.

Saluran yang digunakan untuk menyampaikan informasi di antaranya, laman reami pemerintah, majalah, poster, dialog interaktif di radio, dan pertemuan publik.

Panji Penghargaan

Bupati Anugerahi Camat Berprestasi

Bertajuk penilaian Panji-Panii Keberhasilan Pembangunan Kabupaten Malang.

Camat berprestasi nantinya akan mewakili Pemkab Malang dalam penilaian tingkat Provinsi Jatim dan nasional.

Kecamatan terbaik pada 10 bidang penilaian, berhak mendapatkan panji-panji.

Penilaian dari tiap bidang dilakukan secara independen oleh tim yang ditunjuk Pemkab Malang.

Sepuluh penilaian tersebut, antara lain: bidang pendidikan, seni budaya; partisipasi masyarakat; pertanian dan ketahanan pangan; koperasi dan UMKM; bidang ketertiban, kebersihan dan keindahan; lingkungan hidup; kesehatan; keluarga berencana; dan terakhir bidang pemberdayaan perempuan.

Selain sepuluh bidang penilaian yang jadi sasaran, ada satu kategori khusus yang juga dinilai yakni, leadership.

Dari 10 bidang tersebut akan dilihat seberapa besar upaya yang dilakukan para camat di 33 kecamatan. Seperti dalam hal inovasi, kreativitas, capaian, dan sustainability program-program yang ada di wilayahnya.

Program penilaian tersebut juga meningkatkan sinergitas pembangunan serta pemberdayaan masyarakat di wilayah.

Program ini juga sebagai wadah pembinaan untuk penguatan capacity building. Yakni, mengembangkan suatu ragam strategi dalam meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas-tugas pemerintahan.

Agar Kau Mengerti (bag.2)

Ada istilah di gontor “Ke Gontor Apa Yang Kau Cari?” tetapi yang lebih penting lagi sebenarnya adalah “Bagaimana Engkau Mencari?”. Di sini kehidupan itu diatur oleh jiwa yang 5, Keikhlasan (guru-gurunya ikhlas, maka muridnya pun ikhlas), tidak ada yang dibayar, dan dengan keikhlasan itu barokahnya pasti besar, Sederhana, hidup kita seperti ini sederhana, jangan bermewah-mewah, orang yang bermewah-mewah itu tidak akan jadi/berhasil, Berdikari/Kemandirian, artinya kita tidak perlu bantuan orang lain, tidak perlu dukungan orang lain, bahkan kalian sendiri hidup di dalam asrama itu mandiri, Ukhuwah Islamiyah, di sini berkelahi itu dosa besar, karena tidak menghargai persaudaraan atau ukhuwah islamiyah, Kebebasan, bebas di sini artinya bebas tidak dibawah ormas apapun, tidak dibawah partai apapun, kebebasan bukan berarti anda bebas melakukan apa saja, harus bisa memahami arti berpikiran bebas dengan kebebasan. Itulah jiwa yang menghidupi pondok ini.

Ada yang berkata “masa kita hidup di pondok modern, tetapi tidurnya di bawah, kegiatannya bikin capek dan gak ada waktu istirahat.” Sekarang bandingkan, kalau anda sekolah di luar (SMP,SMA), anda itu punya banyak waktu kosong, berangkat sekolah jam 5 pagi dan sampai sekolah jam 7, nanti selesai jam 2/3, kemudian pulang ke rumah sampe jam 5/6, waktu anda habis, belum nanti waktu digunakan untuk main-main dengan perbuatan-perbuatan yang melanggar syariat dll, isinya itu tidak ada, oleh karena itu suasana yang seperti ini (di gontor) seharusnya itu menjadikan mental anda kuat, artinya anda tahan cobaan, tahan godaan, tahan kelelahan. Kalau anda bisa bertahan atas segala kesulitan ini maka anda akan sukses. Insya Allah. Maka dari itu semuanya yang terpenting adalah mental anda dan kesungguhan anda dalam belajar.

Untuk mahasiswa UNIDA (guru-guru), tempat anda memang di kampus magelang, akan tetapi universitas anda adalah universitas yang berkualitas Internasional. UNIDA ini sudah memiliki MOU (Memorandum Of Understanding) di 40 universitas ternama di dalam dan di luar negeri. Kalau anda berprestasi, perlu anda ketahui, sekarang ini yang namanya beasiswa itu mencari orang pintar, siapa saja yang memiliki nilai yang bagus, maka anda akan DICARI, maka dari itu di sini anda belajar bersungguh-sungguh selain anda menjadi guru, tidak ada orang yang bisa memaksa kalian kecuali diri anda sendiri, tidak ada disiplin anda harus belajar jam sekian sampai jam sekian kecuali anda sendiri, tidak ada yang memaksa anda kuliah, silahkan anda tinggalkan kuliah, gak kuliah sama sekali, akibatnya nanti akan anda rasakan sendiri.

Bagi mahasiswa yang tidak mau kuliah dan malas kuliah, BERHENTI KULIAH, malas jadi guru, BERHENTI JADI GURU, sekarang pertanyaannya kalau anda tidak doyan ilmu, tidak doyan belajar, maka alternative yang bisa anda lakukan adalah mencari harta, kalau tidak cari ilmu, maka cari duit, surganya orang yang alim dengan surganya orang yang kaya itu SAMA,التاجر الصدوق في الجنة مع الشهداء والتابعين (pengusaha yang jujur itu tempatnya di surga bersama para syuhada dan tabi’in), kalau anda tidak bisa menjadi seorang yang alim, jadilah orang yang Tajir, kalau anda tidak bisa dua-duanya, maka anda bukan orang yang bermanfaat untuk orang lain.

Seriuslah dan sungguh-sungguhlah ketika di S1, kalau anda di S1 betul-betul berprestasi, maka ketika S2 ringan, bisa kemana saja, semakin tinggi tingkat pendidikan itu sebenarnya semakin ringan, kalau semakin rendah, maka semakin berat dan dibutuhkan kesungguhan, di KMI perlu kesungguhan, mental dididik, kerja keras dididik, hafalan dididik. Di perguruan tinggi itu dibutuhkan ketekunan, tekun belajar, S2 dan S3 tidak membutuhkan orang-orang yang brilian, yang diperlukan hanya orang-orang yang tekun, belajarlah “berdarah-darah” betul-betul anda sekarang ini tidak ada waktu untuk rileks, ada cerita yang namanya Ulat itu sebelum jadi Kupu-kupu, dia diproses dulu jadi Kepompong, kepompong itu adalah sebuah bulatan, ternyata ketika berproses menjadi kupu-kupu itu, ulat yang di dalam kepompong itu berusaha dengan sekuat tenaga untuk keluar dari kepompong, begitu dia bisa keluar, dia akan menjadi kupu-kupu yang sehat, dan bertahan hidup lama. Suatu ketika ada orang yang ingin membantu membukakan kepompong itu, disobek dan keluarlah kupu-kupu, ternyata setelah diamati, kupu-kupu yang dibantu tersebut umurnya tidak panjang. Berarti orang yang bisa “survive” hidup itu apabila ketika masa mudanya dia bekerja keras, kerja sekeras-kerasnya, nanti pada waktu tua, dia akan menikmati kerja keras yang dia kerjakan di waktu muda tersebut. Maka siapkah anda bekerja keras? Siapkah anda bekerja keras? Semoga 10-20-30 tahun lagi anda akan siap berjuang menjadi tokoh-tokoh masyarakat. Aaaminnnn…..

Dikutip dari ceramah Kuliah Umum Babak I dalam acara Pekan Perkenalan Khutbatul-Arsy di Pondok Modern Gontor Darul Qiyam Kampus 6 Magelang, Bulan September 2015.

Agar Kau Mengerti (bag.1)

Pendidikan di gontor itu tidak selalu pendidikan yang ber-intelektualistis, bukan berarti pelajaran itu tidak penting, tetapi pelajaran yang diberikan di Gontor kepada kalian adalah pelajaran hidup, hidup di masyarakat bukan hanya untuk memberikan apa yang kalian dapatkan di dalam kelas, kalau anda pergi ke masyarakat anda pasti disuruh bekerja, pasti disuruh berbicara, pasti dilihat sopan santunnya.

Ada orang yang berhasil bukan karena pintar, tetapi karena dia baik, dan menjadi orang baik itu tidak mudah, orang menghargai seseorang karena dia bekerja keras, tidak mudah, tapi dia kerja keras, didikan pondok modern gontor itu bisa menjadi macam-macam, bisa menjadi professor, bisa menjadi dokter, bisa menjadi pegawai negeri, bisa menjadi guru, menjadi kyai, bisa menjadi pekerja yang professional, ilmunya hanya dari gontor, mentalnya dari gontor, ilmu itu bisa dapat dari mana saja, maka dari itu janganlah kamu segan-segan bermimpi, tidak mustahil ada dari anda ini yang akan menjadi presiden, menteri, duta besar, dan pengusaha yang suskses.

Di gontor tidak ada didikan untuk menjadi menteri, atau duta besar, yang ada adalah pendidikan mental untuk menjadi orang baik, kalau anda tidak bisa menjadi orang yang berilmu dan berpengetahuan luas, maka jadilah orang yang berbudi tinggi, ini sudah cukup untuk jadi bekal kalian untuk hidup di masyarakat, kalau tidak bisa jadi orang baik, jadilah orang pintar, kalau tidak bisa menjadi orang yang berilmu pengetahuan luas, jadilah pengusaha yang tinggi dan suskes, tetapi yang banyak sedekah dan zakatnya. Disimpulkan menjadi 3 hal :

1.Jadilah orang yang berbudi tinggi dan berakhlakul karimah.

2.jadilah orang yang berpengetahuan luas.

3.jadilah orang yang berpenghasilan tinggi dan banyak sedekahnya.

Khoirunnaasi anfa’uhum linnaasi, yang dimanfaatkan apanya? Kalau tidak ilmunya, ya berarti tenaganya, uang yang dimanfaatkan, sekarang banyak sekali orang yang kaya di Indonesia ini yang hartanya tidak bisa dimanfaatkan untuk umat islam, ini adalah harta yang tidak manfaat, zakatnya itu bisa miliaran, tetapi kemana? Inilah pendidikan di pondok modern gontor, berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas. Berpikiran bebas di sini bukan sebebas-bebasnya, berpikiran bebas itu kreatif, orang yang berpengetahuan luas pasti dia memiliki kreatifitas yang tinggi, kalau ilmu anda adalah ilmu agama, berpengetahuan luas dalam bidang agama, maka berpikiran bebas artinya adalah “ber-ijtihad”, menjadi mujtahid, maka kelas 5 dan 6 anda membaca buku bidayatul-mujtahid, itu artinya anda belajar menjadi mujtahid tetapi belum boleh menjadi mujtahid, baru kelas 5 dan 6 ilmunya masih sedikit, jangan sok berpikiran bebas, anda belum tahu bagaimana membedakan mana pendapat-pendapat yang benar dan mana pendapat-pendpat yang salah, itu namanya “muqaranatul-madzahib”.

Kenapa anak-anak di sini ditaruh di magelang ketika setelah yudisium capel, anda harus tahu hikmahnya, mungkin kalau anda ditaruh di gontor pusat bisa saja anda tidak kerasan, karena di gontor jumlahnya 4.500, bisa saja mental anda tidak kuat, bisa jadi anda tidak naik kelas di sana, hikmahnya di sini juga banyak sekali, ini tempat begitu sangat indanhnya, air di sini mengalir setiap saat, di gontor itu bunyi air sulit didengar, anda harus bersyukur berada di sini, dan tempat yang seperti ini adalah tempat yang sangat bagus untuk menggembleng mental, hanya orang yang bekerja dengan susah payahlah maka dia bisa berhasil, apa ada orang yang malas-malasan bisa jadi presiden/sukses? Tidak ada.

Keliru

Mungkin kau tak tau di mana rizkimu
Tapi rizkimu tau di mana dirimu
Dari lautan biru, bumi dan gunung
Allah memerintahkannya menujumu
Allah menjamin rizkimu, sejak 4 bulan 10 hari kau dalam kandungan ibumu

Amatlah keliru bila bertawakkal rizki, dimaknai dari hasil bekerja
Karena bekerja adalah ibadah, sedang rizki itu urusanNya

Melalaikan kebenaran demi menghawatirkan apa yang dijaminNya
Adalah kekeliruan berganda

Manusia membanting tulang, demi angka simpanan gaji
Yang mungkin esok akan ditinggal mati
Mereka lupa bahwa hakekat rizki bukan apa yang tertulis dalam angka
Tapi apa yang telah dinikmatinya

Rizki takselalu terletak pada pekerjaan kita
Allah menaruh sekehendakNya

Diulang bolak balik 7x shafa dan marwa
Tapi zamzam justru muncul dari kaki bayinya
Ikhtiar itu perbuatan
Rizki itu kejutan

Dan jangan lupa
Tiap hakekat rizki akan ditanya
“Darimana dan untuk apa”
Karena rizki adalah “hak pakai”
Halalnya dihisab
Haramnya diadzab

Maka, jangan kau iri pada rizki orang lain
Bila kau iri pada rizkinya, kau juga harus iri pada takdir matinya
Karena Allah membagi rizki, jodoh dan usia ummatnya
Tanpa bisa tertukar satu dan lainnya
Jadi yakinlah semua adalah dan atas kehendakNya

Sumber: Anonim Group WhatsApp – Suratan Ilahi

7 Waktu

7 Waktu yang perlu diluangkan Ayah untuk anaknya.

1. Pagi hari

Ayah bisa memulai dengan membangunkan anak. Luangkan 5 menit untuk bermain atau mendengar cerita anak mengenai mimpinya.

2. Siang hari

Luangkan 5 menit saja untuk menelepon anak di siang hari. Mulailah dengan cerita ringan mengenai aktivitas ayah di kantor dan pancing anak untuk bercerita mengenai kegiatannya hari itu.

3. Malam hari

Sediakan waktu untuk bermain serta mendengar cerita anak mengenai aktivitasnya seharian. Beri komentar dan arahkan anak secara positif. Malam hari merupakan waktu yang efektif untuk menanamkan budi pekerti dan sikap-sikap yang baik.

4. Liburan

Saat hari libur, ayah bisa secara total melakukan aktivitas bersama anak. Tidak harus pergi berlibur, bisa juga dengan mencuci mobil bersama, memancing, pergi ke toko buku. Aktivitas tersebut akan menciptakan ikatan yang kuat antara ayah dan anak.

5. Di kendaraan

Saat mengantar anak ke sekolah atau ke tempat lain, terutama jika menggunakan mobil, tersedia kesempatan untuk ngobrol dengan buah hati. Selipkan nasehat, misalnya mengenai pentingnya berkendara dengan santun, menghormati hak orang lain, mengikuti aturan lalu lintas, dan lain-lain.

6. Saat anak sedih

Saat anak mengalami kesedihan, ia membutuhkan tempat untuk curhat dan menyampaikan keresahan hatinya. Jika ayah mampu hadir dalam situasi ini, anak tidak akan melabuhkan kepercayaan pada orang yang salah. Karena pahlawan bagi anak adalah mereka yang ada di dekat mereka, menghibur, mendukung dan menguatkan ketika mereka sedih dan mengalami masalah.

7. Saat anak unjuk prestasi

Luangkan waktu untuk hadir saat anak mengikuti lomba atau tampil di panggung. Kehadiran ayah dan ibu dalam momen itu merupakan bentuk pengakuan akan kemampuan anak. Tepuk tangan, foto, dan rekaman yang dibuat ayah atau ibu akan menjadi kenangan yang terus mereka bawa hingga besar nanti.

Hal yang perlu diperhatikan, anak tidak hanya butuh ayah, namun juga ibu. Sebagaimana pepatah Arab, al-umm madrasatun, ibu adalah sekolah bagi anak. Maka, ayah kepala sekolahnya. Ayahlah yang bertanggung jawab agar ‘sekolah’ tersebut berjalan dengan baik dengan menyediakan sarana dan prasarana, mengambil peran, serta membuat instrumen evaluasi. Sedangkan ibu menjadi sumber ilmu, hikmah, dan inspirasi bagi anak dalam proses tumbuh dan berkembang.

Semoga Bermanfaat Untuk Kita Semua.

Sumber: Anonim Group WhatsApp

. . . Itu Adalah Jiwa

Setelah sekian lama nggelibet dengan pencarian makna, akhirnya saya menemukan definisi terbaik dari kata Entrepreneur. Dan itu saya dapatkan dari buku English For Management, salah satu bahan ajar di mata kuliah ESC.

Bagi sebagian orang entrepreneur adalah orang aneh akademik dan sosial (saya sih mengamini), tapi lebih dari hal itu; bagi saya entrepreneur adalah jiwa.

Jika ciri-ciri di bawah ini ada pada diri kita, antara lain:

  1. Berani mengambil resiko.
  2. Berani memulai dan menjalankan suatu keputusan.
  3. Tidak self oriented.
  4. Tidak suka diperintah .
  5. Mandiri
  6. Menikmati kebebasan dan kemerdekaan.
  7. Tidak menyerah ketika hal yang diusahakan belum segera sukses.
  8. Mampu membuat keputusan.
  9. Mau belajar dan memulai lebih .
  10. Memiliki banyak energi.
  11. Biasanya bekerja keras untuk waktu yang lama.
  12. Pemikir yang baik, sering datang dengan ide-ide baru dan cara-cara baru untuk memecahkan masalah.

Maka bisa dipastikan kita adalah orang yang berjiwa entrepreneur.

Terlepas status kita saat ini masih pelajar, mahasiswa, guru, ataupun dosen.

The Characteristics Of Entrepreneurs

An entrepreneur is a person who takes the risk of starting and operating a business for the purpose of making profit. Although individual from business to earn profit by providing consumers with a desired product of service, month years of hard work are often needed before a profit is earned.

Some people would rather work for the others, while other people prefer to work for themselves. Entrepreneurs who prefer self-employment enjoy the freedom and independence that come from being their own bosses and from making their own decisions. Even when their business are not immediately succesful, they do not give up. In fact, some entrepreneurs who are eventually succesful often experienced unsuccessful start ups.

However, they learned from their mistakes and started over.

Entrepreneurs are self starters who have plenty of energy and enjoy working on their own. They like to take charge of situation and usually work hard and for long periods in order to meet their goals. Entrepreneurs are also good thinkers, often coming up with new ideas and new ways to solve the problems. Most succesful small business owners like people and people like them. As a result, they are often community leaders.

Succesful entrepreneurs have other common characteristic. Generally, they obtain work experience in the type of business they launch. The person who starts a computer store, for example, usually has taken some computer courses and worked for a business that makes, sells, or services computers. In addition to appropriate work experience, succesful business owners are also well informed about financial, marketing and legal matters.

There is no magic age for starting a business. Teenagers, parents of teenagers, and retires have all started succesful businesses. In recent years, increasing number of women, Asian-Americans, Hispanic, and African-Americans of all ages have opened their own firms. To start your own business, you need adequate funds, a general knowledge about business, some work experience, and a business opportunity.

Bersumber dari buku: English For Management UMM, Unit 2.

Genggam Erat

Sahabat yang jujur itu ibarat pohon. Bila kita duduk berteduh dibawahnya, ia akan meneduhi kita. Bila kita mengambil buahnya, ia akan mengenyangkan kita. Dan, bila ia tidak memberi kita manfaat, ia tidak merugikan kita.

Walau terkadang ada sahabat yang berkhianat, itu masih lebih baik dibandingkan kita tak punya sahabat. Karena itu adalah salah satu cara melatih kita menjadi lebih bijak.

Secara fitrah, manusia akan berkumpul dengan yang frekuensinya sama.

Jika kita ingin memperoleh sahabat yang tulus, maka kita perlu berlatih tulus. Bila kita ingin punya sahabat hebat, maka kita juga harus berusaha menjadi hebat.

Sahabat itu pengingat. Sahabat itu penyelamat. Sahabat itu penolong. Sahabat itu penasehat. Sahabat itu mentor. Sahabat itu coach. Sahabat itu supporter. Sahabat itu inspirator. Sahabat itu motivator. Sudahkah kita menjadi seperti itu?

Ringkasan dari: Genggam Erat Sahabatmu. Yatim Mandiri Edisi Oktober 2015.

Proses Bermasyarakat

Agar lebih siap untuk hidup bermasyarakat, ada proses yang harus diperhatikan oleh seseorang, di antaranya adalah:

  1. Saling Mengenal.

Adanya interaksi dapat lebih mengenal karakter individu. Perkenalan pertama tentunya kepada penampilan fisik, seperti tubuh, wajah, gaya bicara, tingkah laku, pekerjaan, pendidikan, dan lainnya. Selanjutnya ke pengenalan pemikiran. Hal ini dilakukan dengan dialog dan lainnya. Dan pengenalan terakhir adalah mengenal individu yang ditekankan kepada upaya memahami kejiwaan, karakter, emosi, dan tingkah laku.

  1. Saling Memahami.

Saling memahami adalah kunci persaudaraan. Tanpanya persaudaraan tidak akan berjalan. Dengan saling memahami maka setiap individu akan mudah mengetahui kekuatan dan kelemahannya serta menerima perbedaan. Dari sini akan lahirlah saling tolong menolong dalam persaudaraan.

  1. Saling Tolong Menolong.

Bila telah saling memahami, maka timbulah saling tolong menolong. Hal ini dapat dilakukan dengan hati (saling mendo’akan), pemikiran (berdiskusi dan saling menasehati), dan perbuatan (saling bantu membantu).

  1. Saling Menanggung.

Ini adalah tingkatan persaudaraan yang tertinggi. Yakni saling mengutamakan saudaranya dibandingkan dirinya sendiri.

Ringkasan dari: Tahun Baru Ukhuwah Nomor Satu. Yatim Mandiri Edisi Oktober 2015.